Tunjukkan Kasih Sayang dengan Cara yang Benar dan Diridhoi

Saatnya kita saling berkasih sayang. Tiap saat, tiap waktu, di manapun berada. Tidak perlu waktu, bulan atau tahun khusus sebagai perayaan

Anjuran Saling berkasih Sayang

Dalam Islam, etika saling berkasih sayang telah menjadi bagian dari  adab keseharian umat Muslim sebagai makhluk sosial. Sifat saling menyayangi adalah sifat yang terpuji yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karenanya Allah subhanahu Wata’ala akan memberikan pahala atas setiap kasih sayang yang diberikan oleh seorang Muslim kepada makhluk yang lain baik itu kepada kerabatnya maupun kepada yang bukan kerabatnya, bahkan kasih sayang yang diberikan oleh seseorang kepada binatang dan tumbuhan sekalipun.

Rasa kasih sayang seharusnya timbul kapan saja dan tanpa harus seremonial tertentu pada waktu tertentu saja. Kasih sayang merupakan wujud rasa persaudaraan yang mengikat hati antara setiap makhluk Allah. Hubungan persaudaraan tidak sebatas pada hubungan darah atau keturunan saja, tetapi lebih pada aqidah atau keyakinan sebagai sesama makhluk ciptaan Allah. Jika kesadaran ini yang melandasi etika saling berkasih sayang setiap orang di bumi Allah ini, niscaya tidak akan terdengar pemerkosaan, pembunuhan, korupsi dan perilaku kezaliman lainnya. Karena rasa kasih sayang yang ikhlas dan diaplikasikan sesuai kaidahnya akan memberikan energi positif bagi diri dan lingkungan sekitar.

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah. Seorang dari sahabatnya bertanya, “Siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka.” Rasulullah menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang saling saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita.” (HR. An-Nasai dan Ibnu Hibban).

Hadits ini secara jelas memberikan perintah untuk saling berkasih sayang antara sesama manusia tanpa embel-embel apapun. Karena balasan bagi mereka yang menumbuhkan akhlak saling berkasih sayang tidak sebatas kehidupan di dunia saja, tetapi hingga kelak di akhirat. Sangat lucu bila kemudian ada remaja atau mereka yang kasmaran mensyaratkan rasa cintanya dengan harus rela menjadi budak nafsunya. Mungkin kepuasaan mereka dapat rasakan saat itu, tetapi semua itu hanya bersifat sementara dan dampak negatifnya lebih besar.

Allah menurunkan ke dunia ini hanya satu rahmat saja. Dengan satu rahmat itulah makhluk saling berkasih sayang sampai-sampai induk binatang mengangkat kakinya karena takut terinjak anaknya, demikian sebuah hadits dari Bukhari dan Muslim.

Jika seekor induk binatang saja memahami etika berkasih sayang, maka sepatutnya manusia lebih mampu untuk saling berbagi kasih sayang. Karena manusia tidak hanya dibekali naluri, tetapi juga akal pikiran dan perasaan yang tidak terdapat pada mahkluk Allah lainnya di muka bumi ini.

Ironisnya, masih banyak orangtua yang membunuh anaknya, ayah memperkosa putrinya, ibu menjual bayinya dan demoralisasi lainnya sebagai bukti telah pudarnya etika saling berkasih sayang dalam diri kebanyakan umat saat ini.

Saatnya kita saling berkasih sayang. Tiap saat, tiap waktu, di manapun berada. Tidak perlu waktu, bulan atau tahun khusus sebagai perayaan. Lagi pula dengan alasan berkasih-sayang, mengajak lawan jenis bukan suami-istri (apalagi sampai tidur berdua belum sebagai pasangan sah) bukanlah cara-cara kasih sayang yang diridhoi.*

Sumber : https://www.hidayatullah.com